Main Catur

June 17, 2009

Kata salah seorang temenku, orang berinteraksi dengan orang lain itu kayak main catur. Cara kamu bermain tergantung dengan siapa kamu bermain.

Kalo dia musuhmu, kamu nggak mungkin ngasih tahu dia ke mana kamu mau melangkah.

Kalo kamu mau bersikap ksatria, kamu nggak akan narik kembali langkah yang kamu buat.

Kalo lawanmu temanmu, kamu bisa kompromi gimana cara kamu melangkah, apalagi pacar.

Orang bilang, kalo caraku bermain buruk, hasilnya benar-benar parah, n aku sudah sering mengalaminya. Tapi caraku menanggapi kekalahanQ belum ada yang mengalahkan. Tapi kalau permainanku bagus, hasilnya sangat bagus. Aku sudah mengalaminya.

Kali ini…

Aku nggak tahu dia temenku atau bukan. Dia juga bukan musuhku. a\Aku pengen bilang dia lebih dari temenQ, tapi nggak bisa. Aku dan dia bermain, tapi saat kami bermain, dia seakan berusaha membuatku mundur dengan cara yang halus. Aku terus maju, aku ingin mengalahkannya, aku ingin bermain. Tapi caranya bermain mengingatkanku pada seorang kakak yang berusaha menarik adiknya dari sungai kecil supaya tidak terjatuh. Padahal adiknya suka sekali n berusaha ke sungai kecil itu, melewatinya. Lawan main caturku kali ini berkali-kalilipat lebih bagus dariku. Dia bisa mengalahkanku, tampaknya dia akan mengalahkanku. Tapi dia tidak mau menyatakannya. Dia tidak mau bilang langsung dengan jelas bahwa aku harus mundur. Tapi dalam papan permainan, terlihat jelas sudah kekalahanku, ruang gerakQ sangat sempit. Aku sedih sekali.

Banyak yang bilang, mundur itu bukan sifatku. Aku terbiasa kalah, dan aku selalu bisa menghadapinya. Tapi… lawanku kali ini membuatku bingung. Beda dari yang lain, saat aku harus melangkah mundur, aku tidak akan bisa lagi menatapnya. Begitu aku berkata tanpa suara bahwa aku mundur, aku tidak akan kembali lagi ke papan permainan. Kecuali kalau dia mengajakku bermain hal lain. Karena aku tidak bisa lagi menghadapi papan permainan yang sama.

Aku ingin tahu…

Apakah dia benar-benar menyuruhku mundur? Atau dia mau menyiksaku dengan mengundangku terus bermain? Apakah dia punya rencana lain di akhir permainan? Atau dia benar-benar berpikir praktis: mengalahkanku dengan halus, menyuruhku mundur, tapi berharap bisa terus berteman denganku?

Aku tidak sanggup lagi,

Dia tidak tahu, tapi, aku ingin mundur, aku tidak bisa melawan yang ini lebih lama lagi. Baru kali ini aku ingin mundur dari sebuah permainan. Aku ingin mencari lawan main yang lain. Yang pasti mau bermain denganku dengan seimbang, Tapi, tampaknya aku akan tetap mencari yang bisa bermain seperti dia, mungkin lebih. Kalau tidak ketemu, Mungkin aku tidak akan bermain seperti itu lagi,

Aku harus meninggalkan sesuatu yang sangat dekat denganku, itu menyakitkan sekali. Lebih parah dari putus dengan pacar, lebih parah dari tahu keluargamu tidak bisa utuh lagi, lebih parah dari musuhmu bertambah banyak.

Ini sesuatu yang indah, pertama kalinya aku melihat sebuah cahaya, pertama kalinya aku tahu aku punya teman yang kurang lebih sama dan aku menyukainya sampai taraf yang lebih tinggi, sedikit lebih parah di luar kemauanku. Pilihanku tiga:

Terus bermain, menahan semuanya karena tidak tahu bagaimana ini akan berakhir,

Mengaku bagaimana aku ingin bermain, dengan resiko kami tidak bisa berteman lagi, karena tampaknya dia tidak akan suka begitu dia tahu bagaimana aku ingin bermain,

Mundur dari permainan, dan membiarkan dia tidak tahu bagaimana aku ingin bermain.

Semuanya berujung pada 90% hancurnya hubungan pertemanan dan 10% seperti yang kuinginkan.

Aku adalah orang pertama yang akan melakukannya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.